Zaman modern, pepatah juga perlu menyesuaikan dengan kondisi. Kasus email curhat Prita yang mendapat sorotan dari semua media lokal adalah contoh yang baik. Bukan kasus masalah kesehatannya yang menarik, tetapi budaya beremail dan mengemukakan pendapat.
Email bukan lagi barang baru bagi yang telah mengenal internet. Email disebut sebagai alat komunikasi penting bagi perusahaan dan urusan serius. Namun, jika dilihat secara rata-rata, sebagian besar email yang kita terima/kirim bukanlah untuk hal-hal yang penting.
Banyaknya email yang memenuhi mailbox kita umumnya berasal dari mailing list (milis). Semakin banyak milis yang diikuti dan semakin hot topiknya semakin banyak pula email yang didapat. Apalagi dengan maraknya blekberi, email semakin mudah di terima dan dibalas.
Tidak jarang, kita saling meneruskan email dari satu milis ke milis lain. Sadarkah anda bahwa semua email yang anda kirimkan mencerminkan pendirian kita, pendapat kita atas informasi yang akan kita kirimkan tersebut ? Apakah kita merasa bertanggung jawab atas informasi tersebut, walaupun "cuma" sebagai penerus (forwarder) ?
Seyogianyalah kita berpikir tiga kali sebelum mengirimkan suatu email, terlebih lagi email terusan dari orang/milis lain yang informasikan tidak jelas asal usulnya, tidak sesuai dengan pendirian anda, ataupun jelas-jelas penipuan (hoax). Memang Prita tersangkut karena ia-lah sumber pertama pengarang emailnya (alamat dan HP nya tercantum jelas) tapi tidak menutup kemungkinan besok-besok, pihak-pihak yang ikut menyebarkan bisa terkena getahnya juga ?
Hati-hati meneruskan email. Bukan cuma takut konsekuensi hukumnya, tapi lebih kepada integritas pribadimu. Email-mu, harimau-mu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment